?> Kesalahan Umum dalam Sales Forecasting dan Cara Menghindarinya | Dartmedia
Business

Kesalahan Umum dalam Sales Forecasting dan Cara Menghindarinya

Kesalahan Umum dalam Sales Forecasting dan Cara Menghindarinya
17 November 2025

Sales forecasting adalah fondasi penting dalam perencanaan bisnis modern. Melalui proyeksi penjualan, perusahaan dapat menentukan kebutuhan stok, mengatur strategi pemasaran, menyusun target penjualan, dan menyeimbangkan kapasitas operasional. Namun, banyak organisasi masih berjuang menghasilkan prediksi yang akurat karena berbagai kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari. Ketika forecasting meleset jauh dari kenyataan, dampaknya bisa besar: kelebihan persediaan, kehilangan peluang penjualan, kesalahan produksi, hingga pengambilan keputusan strategis yang tidak tepat. Untuk itu, memahami kesalahan umum berikut serta cara mengatasinya menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas proyeksi bisnis.

 

 

1. Overestimasi dan Optimisme Berlebihan

 

Kesalahan paling sering terjadi adalah overestimasi penjualan. Banyak perusahaan menganggap tren positif saat ini akan terus berlanjut tanpa mempertimbangkan variabel lain. Dalam beberapa kasus, tim sales terlalu optimis bahwa semua prospek akan menghasilkan transaksi, sehingga prediksi menjadi tidak realistis.

 

Cara menghindarinya:
Gunakan data historis dan rasio konversi yang jelas. Evaluasi setiap prospek berdasarkan probabilitas realistis, bukan asumsi. Hindari memasukkan data yang belum pasti sebagai angka penjualan masa depan.

 

 

2. Menggunakan Data yang Tidak Lengkap

 

Forecasting yang baik hanya dapat dihasilkan dari data yang lengkap, akurat, dan terintegrasi. Sayangnya banyak perusahaan masih mengumpulkan data secara manual atau terpisah di berbagai sistem. Ketika data tidak diperbarui, tidak sinkron, atau tidak mencerminkan situasi lapangan, hasil prediksi pun menjadi bias dan sulit dipercaya.

 

Cara menghindarinya:
Selalu gunakan data terbaru, termasuk angka penjualan harian, tren permintaan, kapasitas produksi, lead time pemasok, dan kondisi pasar terkini. Integrasi data lintas departemen sangat penting agar forecasting tidak hanya mengandalkan satu sumber.

 

 

3. Bias Pribadi dalam Interpretasi Data

 

Bias pribadi adalah jebakan besar dalam proses sales forecasting. Tim sering kali menafsirkan data berdasarkan harapan atau preferensi pribadi, bukan fakta. Misalnya, tim marketing meyakini kampanye tertentu akan menghasilkan lonjakan sales karena mereka menyukai konsepnya. Atau tim sales menganggap pelanggan lama pasti akan repeat order meskipun belum ada konfirmasi jelas.

 

Cara menghindarinya:
Gunakan indikator kinerja yang terukur, lakukan cross-check antar departemen, dan validasi setiap asumsi menggunakan data nyata. Semakin kecil intervensi subjektif, semakin tinggi akurasi forecasting.

 

Sistem analitik seperti Byon dapat membantu menghadirkan data yang objektif, terukur, dan tidak dipengaruhi preferensi individu, sehingga keputusan perusahaan lebih akurat dan tidak berbasis asumsi.

 

 

4. Mengabaikan Faktor Eksternal

 

Banyak perusahaan hanya mengandalkan data internal, padahal permintaan pasar tidak selalu mengikuti pola historis. Faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, perubahan regulasi, tren industri, perilaku konsumen, hingga faktor musiman sangat memengaruhi angka penjualan. Ketika aspek-aspek ini diabaikan, forecasting menjadi tidak relevan dengan realitas pasar.

 

Cara menghindarinya:
Lengkapi model forecasting dengan variabel eksternal. Gunakan data makro, analisis pasar, insight kompetitor, serta pola musiman. Kombinasi internal dan eksternal menghasilkan proyeksi yang lebih stabil dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

5. Tidak Pernah Mengukur Akurasi Forecasting

 

Banyak perusahaan membuat forecasting lalu langsung menjalankannya tanpa pernah meninjau kembali apakah prediksi tersebut benar atau meleset. Tanpa evaluasi akurasi, perusahaan tidak bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.

 

Cara menghindarinya:
Gunakan metrik evaluasi seperti MAPE, RMSE, atau varians aktual vs prediksi. Lakukan review bulanan atau kuartalan untuk menyesuaikan model forecasting. Evaluasi rutin dapat mengurangi kesalahan berulang yang mungkin tidak disadari.

 

 

Menguatkan Akurasi Forecast dengan Integrasi Data yang Tepat

 

Sales forecasting yang akurat membutuhkan integrasi data yang lengkap, objektivitas dalam analisis, serta evaluasi berkala. Banyak kesalahan umum — seperti overestimasi, bias pribadi, hingga mengabaikan faktor eksternal — sebenarnya dapat dihindari dengan pendekatan berbasis data. Ketika perusahaan menggunakan sistem yang mampu menyajikan data penjualan, operasional, inventori, dan perilaku pelanggan secara menyeluruh, kualitas prediksi akan meningkat signifikan.

 

Dengan dukungan teknologi analitik modern seperti Byon, perusahaan dapat menghasilkan forecasting yang jauh lebih presisi, memudahkan manajemen mengambil keputusan strategis yang berdampak langsung pada pertumbuhan bisnis.

Irsan Buniardi