?> Analisis Frekuensi Pergantian Shift dan Dampaknya ke Stabilitas Tim | Dartmedia
Business

Analisis Frekuensi Pergantian Shift dan Dampaknya ke Stabilitas Tim

Analisis Frekuensi Pergantian Shift dan Dampaknya ke Stabilitas Tim
28 January 2026

Dalam banyak organisasi operasional—seperti manufaktur, layanan pelanggan, rumah sakit, dan ritel—sistem kerja berbasis shift adalah hal yang tidak terhindarkan. Namun, yang sering luput diperhatikan bukanlah berapa jam karyawan bekerja, melainkan seberapa sering mereka berpindah shift. Padahal, frekuensi pergantian shift yang terlalu tinggi dapat berdampak langsung pada stabilitas tim dan performa kerja.

 

Melalui HRIS, data penjadwalan shift sebenarnya bisa dianalisis lebih jauh untuk mengidentifikasi potensi masalah sebelum berdampak besar ke produktivitas dan retensi karyawan.

 

 

Apa yang Dimaksud dengan Frekuensi Pergantian Shift?

 

Frekuensi pergantian shift mengacu pada seberapa sering seorang karyawan atau tim mengalami perubahan jadwal kerja, misalnya:

 

 

Pergantian ini berbeda dengan rotasi shift yang terencana dan stabil. Masalah muncul ketika perubahan terjadi terlalu sering, tidak konsisten, atau minim jeda adaptasi.

 

 

Mengapa Stabilitas Shift Penting bagi Tim?

 

Stabilitas jadwal kerja berpengaruh langsung pada ritme kerja individu dan tim. Beberapa dampak utama dari shift yang sering berubah antara lain:

 

 

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menurunkan performa tim meskipun total jam kerja terlihat normal.

 

 

Analisis Data Shift Menggunakan HRIS

 

HRIS menyimpan data penjadwalan yang sangat kaya dan sering kali belum dimanfaatkan secara optimal. Beberapa analisis yang bisa dilakukan antara lain:

 

1. Rata-rata Pergantian Shift per Karyawan
Menghitung berapa kali seorang karyawan berpindah shift dalam periode tertentu (mingguan atau bulanan). Angka yang terlalu tinggi bisa menjadi sinyal risiko kelelahan.

 

2. Pola Pergantian dalam Satu Tim
Membandingkan frekuensi perubahan shift antar tim. Jika satu tim jauh lebih sering berubah dibanding tim lain, kemungkinan ada masalah di perencanaan atau kekurangan tenaga.

 

3. Jarak Waktu Antar Shift
Melihat apakah ada jeda yang cukup antara satu shift dan shift berikutnya. Jeda yang terlalu pendek dapat memicu kelelahan kronis.

 

 

Contoh Kasus

 

Sebuah tim customer support beranggotakan 12 orang memiliki data berikut dalam HRIS selama satu bulan:

 

 

Dari data performa, Tim B memiliki:

 

 

Analisis ini menunjukkan bahwa masalah performa Tim B bukan berasal dari kompetensi, melainkan dari ketidakstabilan jadwal kerja.

 

 

Manfaat Analisis Ini bagi HR dan Manajemen

 

Dengan memahami pola pergantian shift, HR dapat:

 

 

Byon membantu HR dan manajemen mengubah data operasional menjadi insight praktis untuk mencegah burnout, mengoptimalkan jadwal kerja, dan menjaga performa tim secara berkelanjutan.

 

 

Data Shift sebagai Indikator Kesehatan Tim

 

Frekuensi pergantian shift bukan sekadar isu operasional, melainkan indikator penting kesehatan dan stabilitas tim. Dengan platform HRIS seperti Byon, perusahaan dapat meningkatkan performa tanpa harus selalu menekan karyawan dengan target tambahan. Stabilitas jadwal yang baik sering kali menjadi fondasi dari tim yang konsisten, sehat, dan berkelanjutan.

Irsan Buniardi