?> Designing Friction on Purpose: Saat Onboarding Tidak Harus Terlalu Mulus | Dartmedia
Business

Designing Friction on Purpose: Saat Onboarding Tidak Harus Terlalu Mulus

Designing Friction on Purpose: Saat Onboarding Tidak Harus Terlalu Mulus
19 December 2025

Dalam banyak organisasi modern, onboarding sering diperlakukan sebagai proses yang harus secepat dan semulus mungkin. Semua disiapkan oleh HR, akses langsung dibuka, tugas awal diminimalkan, dan karyawan baru dibuat senyaman mungkin. Tujuannya baik: mempercepat adaptasi dan meningkatkan pengalaman awal.

 

Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan tersembunyi. Onboarding yang terlalu mulus justru dapat mengaburkan tanggung jawab, melemahkan disiplin, dan menunda pembentukan akuntabilitas. Di sinilah konsep designed friction menjadi relevan.

 

 

Apa Itu Friction dalam Onboarding?

 

Friction dalam onboarding adalah hambatan yang disengaja, terukur, dan memiliki tujuan jelas. Bukan kekacauan, bukan proses berbelit, tetapi langkah-langkah yang mengharuskan karyawan baru terlibat aktif sebelum melangkah lebih jauh.

 

Friction berbeda dengan inefisiensi. Jika inefisiensi muncul karena proses yang buruk, friction justru dirancang untuk membentuk perilaku kerja yang tepat sejak awal.

 

 

Mengapa Onboarding Terlalu Mulus Bisa Menyesatkan?

 

Ketika semua akses, informasi, dan fasilitas langsung diberikan tanpa proses:

 

 

Secara tidak langsung, organisasi mengirimkan pesan bahwa proses dan kontrol bukanlah hal penting.

 

 

Kapan Friction Justru Dibutuhkan?

 

1. Saat Menyangkut Akses dan Risiko

Akses ke data sensitif, sistem keuangan, atau alat produksi seharusnya tidak instan. Friction memastikan bahwa akses diberikan setelah pemahaman dan persetujuan yang sadar.

 

2. Saat Membentuk Mindset Kerja

Proses yang mewajibkan membaca, mengonfirmasi, dan menyelesaikan tahapan tertentu melatih ketelitian dan rasa tanggung jawab sejak hari pertama.

 

3. Saat Mendorong Akuntabilitas Individu

Jika seluruh onboarding diurus oleh HR, karyawan baru cenderung pasif. Friction kecil memaksa mereka aktif mengelola progresnya sendiri.

 

 

Contoh Friction yang Sehat dalam Onboarding

 

Berikut beberapa contoh penerapan friction yang konstruktif:

 

 

Semua contoh ini menambah sedikit effort, tetapi membangun fondasi perilaku kerja yang jauh lebih kuat.

 

 

Friction yang Baik vs Friction yang Buruk

 

Friction yang baik:

 

 

Friction yang buruk:

 

 

Kuncinya bukan menghilangkan friksi, melainkan mengendalikannya.

 

 

Peran Sistem Digital dalam Mengelola Friction

 

Tanpa sistem yang terstruktur, friksi mudah berubah menjadi kekacauan. Sistem onboarding digital seperti Byon memungkinkan organisasi:

 

 

Dengan cara ini, friction menjadi alat desain organisasi, bukan efek samping dari proses yang berantakan.

 

 

Strategi Onboarding Modern

 

Onboarding bukan hanya tentang membuat karyawan baru merasa nyaman, tetapi tentang menyiapkan mereka untuk bertanggung jawab. Friction yang dirancang dengan baik membantu organisasi membangun disiplin, mengurangi risiko, dan mempercepat kedewasaan kerja sejak hari pertama. Dengan dukungan sistem digital seperti Byon, friction ini dapat dirancang secara sadar dan konsisten, bukan muncul secara acak karena proses yang tidak rapi.

 

Alih-alih bertanya bagaimana membuat onboarding semulus mungkin, organisasi perlu mulai bertanya: Friction apa yang perlu ada agar budaya kerja terbentuk dengan benar?

Irsan Buniardi