Barang sudah tiba di gudang, tetapi setelah dicek, jumlahnya tidak sama dengan purchase order. Bisa juga jumlahnya benar, tetapi spesifikasi barang berbeda, kemasan rusak, atau kualitasnya tidak sesuai dengan standar yang sudah disepakati.
Situasi seperti ini sering terjadi dalam proses penerimaan barang. Karena itu, cara mencocokkan barang datang dengan purchase order perlu dibuat jelas sejak awal, bukan hanya dicek sekilas saat barang sudah diturunkan.
Jika proses ini tidak rapi, warehouse bisa menerima barang yang salah, procurement kesulitan menindaklanjuti vendor, dan finance berisiko memproses pembayaran untuk barang yang belum sesuai.
Barang Datang Tidak Selalu Sama dengan yang Dipesan
Dalam proses pembelian, purchase order biasanya sudah mencatat barang apa yang dipesan, berapa jumlahnya, harga, vendor, dan detail lain yang disetujui. Namun saat barang benar-benar datang, kondisi di lapangan bisa berbeda.
Beberapa masalah yang sering muncul:
- Jumlah barang yang datang lebih sedikit dari PO.
- Jumlah barang lebih banyak dari yang dipesan.
- Spesifikasi barang berbeda dari deskripsi di PO.
- Barang datang dalam kondisi rusak atau kualitasnya tidak sesuai.
- Satuan barang berbeda, misalnya PO memakai box tetapi barang datang dalam pcs.
- Barang datang sebagian, sementara sisanya menyusul.
- Surat jalan vendor tidak sama dengan data purchase order.
Masalah utamanya bukan hanya barang berbeda. Yang lebih berisiko adalah saat perbedaan tersebut tidak tercatat dengan jelas. Akibatnya, data stok, status PO, dan proses pembayaran bisa ikut tidak akurat.
Kenapa Pencocokan PO Sering Bermasalah?
PO matching sering bermasalah karena data pembelian dan penerimaan barang tidak selalu dikelola dalam satu alur yang sama. Procurement membuat PO, vendor mengirim barang, warehouse menerima barang, lalu finance memproses invoice.
Jika setiap tim memakai catatan berbeda, detail kecil bisa terlewat.
Penyebab yang umum terjadi antara lain:
- Warehouse hanya menerima barang berdasarkan surat jalan, bukan mencocokkannya dengan PO.
- Detail spesifikasi di PO tidak cukup jelas untuk dijadikan acuan pengecekan.
- Perbedaan jumlah dicatat di chat atau catatan manual, bukan di sistem.
- Barang yang rusak tetap diterima tanpa status khusus.
- Procurement tidak langsung mendapat informasi saat barang berbeda dari pesanan.
- Finance menerima invoice tanpa visibility terhadap hasil goods receipt.
- Tidak ada standar apakah barang harus diterima penuh, diterima sebagian, atau ditolak.
Bedakan PO, Goods Receipt, dan Hasil Pengecekan
Sebelum merapikan proses, tim perlu membedakan beberapa dokumen dan status penting. Banyak masalah terjadi karena purchase order, surat jalan, dan goods receipt dianggap sebagai dokumen yang sama, padahal fungsinya berbeda.
|
Komponen |
Fungsi |
Contoh Data |
|
Purchase Order |
Dokumen pesanan yang disetujui perusahaan |
Barang A, 100 unit, spesifikasi X |
|
Surat Jalan Vendor |
Dokumen pengiriman dari vendor |
Barang A dikirim 90 unit |
|
Goods Receipt |
Catatan barang yang benar-benar diterima gudang |
Diterima 90 unit, 5 unit rusak |
|
Hasil PO Matching |
Perbandingan antara PO dan barang diterima |
Selisih 10 unit, ada barang rusak |
|
Status Penerimaan |
Keputusan atas barang yang datang |
Accepted, partial accepted, rejected, pending review |
Dengan pemisahan ini, tim bisa melihat apakah masalah ada pada pesanan, pengiriman, penerimaan, atau kualitas barang.
Data yang Perlu Dicek saat Barang Datang
Saat barang tiba, warehouse tidak cukup hanya menghitung total barang. Tim perlu memastikan data di lapangan sesuai dengan purchase order, surat jalan, dan kondisi fisik barang.
Beberapa data utama yang perlu dicek antara lain:
- Nomor purchase order dan nomor surat jalan.
- Nama vendor dan tanggal barang datang.
- Nama barang, kode barang, dan satuan barang.
- Jumlah barang menurut PO dan jumlah yang benar-benar diterima.
- Spesifikasi barang seperti ukuran, tipe, warna, model, atau material.
- Kondisi fisik barang saat diterima.
- Jumlah barang yang rusak, cacat, atau tidak layak pakai.
- Status penerimaan, seperti diterima penuh, diterima sebagian, ditolak, atau menunggu review.
- Catatan selisih, alasan penolakan, serta dokumen pendukung jika diperlukan.
Jika pencocokan barang datang mulai sulit dipantau lewat spreadsheet, chat, atau dokumen terpisah, perusahaan bisa mempertimbangkan sistem seperti BYON agar purchase order, goods receipt, status penerimaan, dan histori pengecekan lebih mudah dilacak dalam satu alur kerja.
Contoh Kasus: Barang Datang Berbeda dari PO
Misalnya procurement membuat purchase order untuk pembelian bahan kemasan dengan detail berikut:
|
Item |
Jumlah di PO |
Spesifikasi di PO |
Barang Datang |
Hasil Cek |
|
Box Kemasan A |
1.000 pcs |
Ukuran 20 x 15 cm |
950 pcs |
Kurang 50 pcs |
|
Label Produk B |
2.000 pcs |
Warna matte |
2.000 pcs |
Warna glossy |
|
Plastik Seal C |
500 pcs |
Tebal 80 micron |
500 pcs |
30 pcs rusak |
Dari contoh ini, tidak semua masalah bisa diperlakukan sama.
- Box Kemasan A bisa dicatat sebagai partial receipt karena jumlah yang datang kurang.
- Label Produk B perlu dicek ulang karena spesifikasi berbeda, meskipun jumlahnya sesuai.
- Plastik Seal C bisa diterima sebagian jika 470 pcs layak pakai dan 30 pcs dicatat sebagai damaged goods.
Dengan pencatatan seperti ini, status barang menjadi lebih jelas. Procurement bisa menindaklanjuti vendor, warehouse tahu barang mana yang boleh masuk stok, dan finance bisa menahan atau menyesuaikan pembayaran jika diperlukan.
Cara Mencocokkan Barang Datang dengan Purchase Order
Agar proses goods receipt lebih rapi, warehouse dan procurement perlu memiliki langkah kerja yang konsisten. Tujuannya bukan memperpanjang proses, tetapi memastikan barang yang masuk benar-benar sesuai dengan pesanan.
Langkah yang bisa digunakan:
- Buka purchase order yang sesuai dengan pengiriman barang.
- Cocokkan nomor PO dengan surat jalan dari vendor.
- Periksa nama barang, kode barang, dan deskripsi barang.
- Hitung jumlah barang yang diterima secara fisik.
- Bandingkan jumlah fisik dengan jumlah di PO.
- Periksa spesifikasi penting seperti ukuran, tipe, warna, batch, atau material.
- Cek kondisi barang, termasuk kerusakan, cacat, atau kemasan yang bermasalah.
- Catat selisih jumlah, perbedaan spesifikasi, atau masalah kualitas.
- Tentukan status penerimaan: diterima penuh, diterima sebagian, ditolak, atau pending review.
- Kirim informasi selisih ke procurement untuk ditindaklanjuti ke vendor.
Catatan penting: jangan langsung memasukkan semua barang ke stok available jika statusnya masih belum jelas. Barang yang rusak, salah spesifikasi, atau masih menunggu approval sebaiknya diberi status terpisah agar tidak dipakai dalam proses operasional.
Status Penerimaan Perlu Dibuat Jelas
Salah satu cara mencegah salah terima barang adalah membuat status penerimaan yang mudah dipahami semua tim. Status ini membantu warehouse, procurement, dan finance membaca kondisi PO tanpa harus menanyakan ulang lewat chat.
Contoh status yang bisa digunakan:
- Received untuk barang yang sudah diterima sesuai PO.
- Partial received untuk barang yang diterima sebagian.
- Pending review untuk barang yang perlu dicek lebih lanjut.
- Rejected untuk barang yang ditolak karena tidak sesuai.
- Damaged untuk barang yang rusak atau tidak layak digunakan.
- Waiting replacement untuk barang yang menunggu penggantian dari vendor.
Status ini membuat proses tindak lanjut lebih jelas. Procurement tahu mana yang harus dikomunikasikan ke vendor, warehouse tahu barang mana yang boleh diproses, dan finance tahu apakah invoice sudah bisa dilanjutkan atau masih perlu ditahan.
Bagaimana Goods Receipt dan PO Matching Membantu Proses Lebih Terkontrol?
Dalam sistem manajemen bisnis, fitur goods receipt dan PO matching membantu perusahaan mencatat barang datang berdasarkan purchase order yang sudah dibuat. Jadi, penerimaan barang tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan dokumen pembelian sebelumnya.
Fitur ini dapat membantu tim dalam beberapa hal:
- Membandingkan jumlah barang di PO dengan jumlah yang diterima.
- Mencatat barang yang diterima penuh, sebagian, rusak, atau ditolak.
- Menyimpan catatan selisih antara PO dan goods receipt.
- Melampirkan dokumen pendukung seperti surat jalan atau foto barang.
- Menghubungkan status penerimaan dengan update stok.
- Membantu procurement menindaklanjuti vendor berdasarkan data yang jelas.
- Membantu finance memeriksa apakah invoice sesuai dengan barang yang benar-benar diterima.
Dengan alur seperti ini, perusahaan tidak hanya tahu bahwa barang sudah datang. Tim juga bisa melihat apakah barang tersebut benar-benar sesuai dengan pesanan.
Penerimaan Barang yang Rapi Membantu Stok dan Pembayaran Lebih Akurat
Barang yang salah diterima bisa memengaruhi banyak proses setelahnya. Stok bisa terlihat tersedia padahal barangnya rusak, pembayaran bisa diproses untuk barang yang belum lengkap, atau vendor tidak segera ditindaklanjuti karena selisih tidak tercatat.
Karena itu, proses mencocokkan barang datang dengan purchase order perlu dibuat sebagai bagian penting dari kontrol operasional. Bukan hanya tugas warehouse, tetapi juga bagian dari koordinasi antara procurement, inventory, dan finance.
Untuk perusahaan yang ingin membuat proses penerimaan barang lebih mudah dilacak, BYON dapat membantu menghubungkan purchase order, goods receipt, PO matching, status penerimaan, dan reporting agar setiap perbedaan barang bisa ditangani dengan lebih jelas.
Dengan proses yang rapi, perusahaan dapat memastikan barang yang masuk gudang sesuai pesanan, stok lebih akurat, dan keputusan pembayaran lebih mudah dipertanggungjawabkan.