?> Barang Datang Tidak Sesuai PO? Ini Cara Mengeceknya dengan Lebih Rapi | Dartmedia
Business

Barang Datang Tidak Sesuai PO? Ini Cara Mengeceknya dengan Lebih Rapi

Barang Datang Tidak Sesuai PO? Ini Cara Mengeceknya dengan Lebih Rapi
04 May 2026

Barang sudah tiba di gudang, tetapi setelah dicek, jumlahnya tidak sama dengan purchase order. Bisa juga jumlahnya benar, tetapi spesifikasi barang berbeda, kemasan rusak, atau kualitasnya tidak sesuai dengan standar yang sudah disepakati.

 

Situasi seperti ini sering terjadi dalam proses penerimaan barang. Karena itu, cara mencocokkan barang datang dengan purchase order perlu dibuat jelas sejak awal, bukan hanya dicek sekilas saat barang sudah diturunkan.

 

Jika proses ini tidak rapi, warehouse bisa menerima barang yang salah, procurement kesulitan menindaklanjuti vendor, dan finance berisiko memproses pembayaran untuk barang yang belum sesuai.

 

 

Barang Datang Tidak Selalu Sama dengan yang Dipesan

 

Dalam proses pembelian, purchase order biasanya sudah mencatat barang apa yang dipesan, berapa jumlahnya, harga, vendor, dan detail lain yang disetujui. Namun saat barang benar-benar datang, kondisi di lapangan bisa berbeda.

 

Beberapa masalah yang sering muncul:

 

 

Masalah utamanya bukan hanya barang berbeda. Yang lebih berisiko adalah saat perbedaan tersebut tidak tercatat dengan jelas. Akibatnya, data stok, status PO, dan proses pembayaran bisa ikut tidak akurat.

 

 

Kenapa Pencocokan PO Sering Bermasalah?

 

PO matching sering bermasalah karena data pembelian dan penerimaan barang tidak selalu dikelola dalam satu alur yang sama. Procurement membuat PO, vendor mengirim barang, warehouse menerima barang, lalu finance memproses invoice.

 

Jika setiap tim memakai catatan berbeda, detail kecil bisa terlewat.

 

Penyebab yang umum terjadi antara lain:

 

 

 

Bedakan PO, Goods Receipt, dan Hasil Pengecekan

 

Sebelum merapikan proses, tim perlu membedakan beberapa dokumen dan status penting. Banyak masalah terjadi karena purchase order, surat jalan, dan goods receipt dianggap sebagai dokumen yang sama, padahal fungsinya berbeda.

 

Komponen

Fungsi

Contoh Data

Purchase Order

Dokumen pesanan yang disetujui perusahaan

Barang A, 100 unit, spesifikasi X

Surat Jalan Vendor

Dokumen pengiriman dari vendor

Barang A dikirim 90 unit

Goods Receipt

Catatan barang yang benar-benar diterima gudang

Diterima 90 unit, 5 unit rusak

Hasil PO Matching

Perbandingan antara PO dan barang diterima

Selisih 10 unit, ada barang rusak

Status Penerimaan

Keputusan atas barang yang datang

Accepted, partial accepted, rejected, pending review

 

Dengan pemisahan ini, tim bisa melihat apakah masalah ada pada pesanan, pengiriman, penerimaan, atau kualitas barang.

 

 

Data yang Perlu Dicek saat Barang Datang

 

Saat barang tiba, warehouse tidak cukup hanya menghitung total barang. Tim perlu memastikan data di lapangan sesuai dengan purchase order, surat jalan, dan kondisi fisik barang.

 

Beberapa data utama yang perlu dicek antara lain:

 

 

Jika pencocokan barang datang mulai sulit dipantau lewat spreadsheet, chat, atau dokumen terpisah, perusahaan bisa mempertimbangkan sistem seperti BYON agar purchase order, goods receipt, status penerimaan, dan histori pengecekan lebih mudah dilacak dalam satu alur kerja.

 

 

Contoh Kasus: Barang Datang Berbeda dari PO

 

Misalnya procurement membuat purchase order untuk pembelian bahan kemasan dengan detail berikut:

 

Item

Jumlah di PO

Spesifikasi di PO

Barang Datang

Hasil Cek

Box Kemasan A

1.000 pcs

Ukuran 20 x 15 cm

950 pcs

Kurang 50 pcs

Label Produk B

2.000 pcs

Warna matte

2.000 pcs

Warna glossy

Plastik Seal C

500 pcs

Tebal 80 micron

500 pcs

30 pcs rusak

 

Dari contoh ini, tidak semua masalah bisa diperlakukan sama.

 

 

Dengan pencatatan seperti ini, status barang menjadi lebih jelas. Procurement bisa menindaklanjuti vendor, warehouse tahu barang mana yang boleh masuk stok, dan finance bisa menahan atau menyesuaikan pembayaran jika diperlukan.

 

 

Cara Mencocokkan Barang Datang dengan Purchase Order

 

Agar proses goods receipt lebih rapi, warehouse dan procurement perlu memiliki langkah kerja yang konsisten. Tujuannya bukan memperpanjang proses, tetapi memastikan barang yang masuk benar-benar sesuai dengan pesanan.

 

Langkah yang bisa digunakan:

 

  1. Buka purchase order yang sesuai dengan pengiriman barang.
  2. Cocokkan nomor PO dengan surat jalan dari vendor.
  3. Periksa nama barang, kode barang, dan deskripsi barang.
  4. Hitung jumlah barang yang diterima secara fisik.
  5. Bandingkan jumlah fisik dengan jumlah di PO.
  6. Periksa spesifikasi penting seperti ukuran, tipe, warna, batch, atau material.
  7. Cek kondisi barang, termasuk kerusakan, cacat, atau kemasan yang bermasalah.
  8. Catat selisih jumlah, perbedaan spesifikasi, atau masalah kualitas.
  9. Tentukan status penerimaan: diterima penuh, diterima sebagian, ditolak, atau pending review.
  10. Kirim informasi selisih ke procurement untuk ditindaklanjuti ke vendor.

 

Catatan penting: jangan langsung memasukkan semua barang ke stok available jika statusnya masih belum jelas. Barang yang rusak, salah spesifikasi, atau masih menunggu approval sebaiknya diberi status terpisah agar tidak dipakai dalam proses operasional.

 

 

Status Penerimaan Perlu Dibuat Jelas

 

Salah satu cara mencegah salah terima barang adalah membuat status penerimaan yang mudah dipahami semua tim. Status ini membantu warehouse, procurement, dan finance membaca kondisi PO tanpa harus menanyakan ulang lewat chat.

 

Contoh status yang bisa digunakan:

 

 

Status ini membuat proses tindak lanjut lebih jelas. Procurement tahu mana yang harus dikomunikasikan ke vendor, warehouse tahu barang mana yang boleh diproses, dan finance tahu apakah invoice sudah bisa dilanjutkan atau masih perlu ditahan.

 

 

Bagaimana Goods Receipt dan PO Matching Membantu Proses Lebih Terkontrol?

 

Dalam sistem manajemen bisnis, fitur goods receipt dan PO matching membantu perusahaan mencatat barang datang berdasarkan purchase order yang sudah dibuat. Jadi, penerimaan barang tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan dokumen pembelian sebelumnya.

 

Fitur ini dapat membantu tim dalam beberapa hal:

 

 

Dengan alur seperti ini, perusahaan tidak hanya tahu bahwa barang sudah datang. Tim juga bisa melihat apakah barang tersebut benar-benar sesuai dengan pesanan.

 

 

Penerimaan Barang yang Rapi Membantu Stok dan Pembayaran Lebih Akurat

 

Barang yang salah diterima bisa memengaruhi banyak proses setelahnya. Stok bisa terlihat tersedia padahal barangnya rusak, pembayaran bisa diproses untuk barang yang belum lengkap, atau vendor tidak segera ditindaklanjuti karena selisih tidak tercatat.

 

Karena itu, proses mencocokkan barang datang dengan purchase order perlu dibuat sebagai bagian penting dari kontrol operasional. Bukan hanya tugas warehouse, tetapi juga bagian dari koordinasi antara procurement, inventory, dan finance.

 

Untuk perusahaan yang ingin membuat proses penerimaan barang lebih mudah dilacak, BYON dapat membantu menghubungkan purchase order, goods receipt, PO matching, status penerimaan, dan reporting agar setiap perbedaan barang bisa ditangani dengan lebih jelas.

 

Dengan proses yang rapi, perusahaan dapat memastikan barang yang masuk gudang sesuai pesanan, stok lebih akurat, dan keputusan pembayaran lebih mudah dipertanggungjawabkan.

 

Irsan Buniardi